Sepeda Rakitan untuk touring

October 6, 2015 - 10 minutes read

Sepeda Rakitan untuk touring

Bagi sebagian goweser, touring adalah candu. Bersepeda jarak jauh dan berhari-hari dilakoni dengan semangat dan motivasi yang tak terhenti. Tak jarang menimbulkan keheranan bagi banyak orang. Mengapa harus susah payah menuju suatu tempat jika sudah banyak alternatif angkutan di masa modern ini?

Sepeda Rakitan untuk touring

Jawabannya ada di setiap kayuhan itu sendiri.

Di Indonesia kegiatan ini memang belum seramai di luar negeri. Semisal di Eropa atau Amerika Serikat. AS memiliki rute touring sepeda legendaris, Trans AM, yang merentang dari ujung timur ke ujung barat negara AS. Begitu pula dengan Eropa yang memiliki rute-rute touring klasik.

Begitu memasyarakatnya touring sepeda membuat di sana sudah diciptakan sepeda khusus untuk jarak jauh. Geometri sepeda dan aksesoris pendukung tersedia untuk kebutuhan bersepeda jarak jauh selama berhari-hari. Nah, di Indonesia sepeda khusus seperti itu masih jarang. Alhasil, penyuka touring pun mengakali dengan merakit sepeda sendiri khusus untuk touring.

Beberapa orang yang melakukan touring akhirnya menggunakan sepeda yang ada di pasaran. Bahkan ada yang menggunakan sepeda onthel dengan satu gigi. Sebagian besar menggunakan sepeda gunung (MTB) karena fleksibilitasnya. Mau di jalan mulus masih bisa meski butuh tenaga ekstra untuk mengayuhnya. Sementara di jalan rusak oke-oke saja.

Seiring maraknya touring atau sepeda jarak jauh, sepeda lipat dan bahkan fixie pun digunakan untuk touring. Tentu dari segi fungsi sudah jelas salah kaprah dan menyiksa diri. Sepeda touring memang dikhususkan untuk perjalanan jarak jauh sehingga rancang bangunnya sudah memasukkan faktor kenyamanan. Juga sudah siap untuk membawa barang pribadi.

Apa saja plus minusnya sepeda-sepeda non-touring saat digunakan touring? Dengan tulisan ini mari kita coba menguraikan beberapa alternatif sepeda apa saja yang bisa digunakan untuk touring.

MTB atau Sepeda Gunung

Sepeda ini mirip dengan SUV di dunia permobilan. Tangguh untuk melewati jalan berkeriting atau berlubang di sana-sini. Meski ada yang bilang tidak cocok untuk dijadikan sepeda toruing, namun harus diingat bahwa esensi touring adalah kesenangan, olahraga, dan pengalaman. Tak ada hal khusus soal tunggangan.

BACA JUGA:  Buat yang malas berolahraga, harus baca ini. Ternyata minum ini bisa buat kamu tidak malas lagi

Akan tetapi, kesenangan bisa ternodai oleh ketidaknyamanan tunggangan. Oleh karena itu, beberapa tambahan atau perubahan bisa dilakukan demi memperoleh rasa touring di sepeda gunung.

    • Rak

Hampir semua MTB tidak dilengkapi dengan rak. Jika sepeda gunung ini mau dipakai untuk touring, kebutuhan akan rak mutlak. Memang ada yang menggunakan ransel punggung, namun hal ini tidak disarankan. Sangat tidak bagus buat punggung Anda sebab memberi beban pada punggung dalam jangka lama rentan cedera. Untuk keseimbangan, lebih bagus jika memasang rak depan dan belakang. Namun jika dana terbatas bisa saja memasang rak belakang terdahulu.
Jangan lupa membeli pannier untuk membawa barang-barang selama touring. Pasanglah pannier di kiri dan kanan serta kantung anti air di atasnya.

    • Setang/handlebar

Perbedaan besar antara sepeda gunung dan sepeda touring adalah posisi Anda. Sepeda gunung dirancang untuk posisi yang lebih banyak berdiri sedangkan sepeda touring perkawinan antara sepeda gunung dan sepeda jalan raya. Setang sepeda gunung yang lurus memang tidak banyak memberikan alternatif posisi saat berkendara. Saat touring yang membutuhkan waktu berjam-jam di atas sepeda, posisi monoton bisa menimbulkan kelelahan pada punggung dan dengkul. Jika Anda memiliki permasalahan dengan punggung, maka mengganti setang sepeda gunung adalah wajib. Jika belum ada dana untuk mengganti setang, cobalah dengan memasang tanduk setang (end bar) agar memiliki variasi memegang setang.

Ada tiga alternatif setang untuk touring ini: drop down (setang model balap), bull-horn (setang model fixie), atau butterfly.

    • Ban

Sepeda gunung kebanyakan menggunakan ban pacul atau profil kasar agar memperoleh daya cengkeram saat melaju di jalan tak rata. Nah, touring yang lebih banyak melaju di atas jalan raya justru membutuhkan ban gundul atau slick agar gesekan ban dengan jalan berkurang. Otomatis kayuhan menjadi enteng dan menghemat tenaga. Maka gunakan ban gundul dengan lebar tapak yang medium.

    • Spion

Harganya murah tapi sangat berguna. Sepele, tapi tak bisa disepelekan fungsinya. Sangat berguna saat mau belok ke kanan atau menyalip angkutan kota yang berhenti seenaknya. Bermacam-macam bentuk spion: untuk setang tanduk (kiri), setang lurus (tengah) dan setang balap (kanan).
Kelebihan spion yang dicantolkan ke setang ini adalah kokoh, memiliki bidang pandang yang lebar, dan mudah diatur.

    • Gear / gir
BACA JUGA:  Sepeda yang cocok untuk orang gemuk

Penggunaan gear sangat tergantung medan yang akan Anda lalui. Sepeda gunung dirancang untuk menaklukkan medan yang ekstrem dan tidak rata. Oleh karena itu digunakan pasangan gir yang kecil di depan dan besar di belakang. Kombinasi ini menghasilkan kayuhan yang ringan demi menaklukkan medan yang berat.

Berbeda dengan touring yang kebanyakan onroad. Kalaupun offroad lebih ke arah jalan rusak. Oleh karena itu, agar tenaga efisien maka lebih baik kombinasi gir diubah. Yang umum orang menggunakan kombinasi 48-36-24 atau 46-34-22 dengan kaset 12 – 32 atau 11 – 30. Kini bahkan ada kaset yang lebih besar, 34, untuk medan yang penuh tanjakan.

  • Sadel
    Sadel sangat penting dalam sepeda touring karena di sinilah berat badan bertumpu. Untuk itu diperlukan sadel yang pas buat pe-touring. Pada intinya sadel harus bisa menopang tulang pantat dengan maksimal sehingga pantat tidak sakit.
  • Spakbor/fender
    Dalam melakukan touring, tak jarang hujan menghadang perjalanan. Salah satu senjata untuk melawan hujan adalah spakbor atau fender ini. Alat ini berfungsi melindungi batang sepeda dan komponen FD dari cipratan air hujan yang membawa lumpur. Juga mata dari cipratan air hujan yang terlontar saat roda berputar.
  • Lampu

Di kegelapan, seberkas lampu begitu berarti. Sebanyak mungkin pasang lampu di depan dan belakang. Untuk depan minimal dua lampu: satu menyala terus untuk melihat jalan di depan dan satunya berkedip-kedip untuk menarik perhatian kendaraan dari arah depan. Sedangkan yang belakang pasang lampu berkedap-kedip untuk menarik perhatian kendaraan dari belakang.

Road bike atau sepeda balap

Sepeda balap untuk touring bisa saja meski banyak hal yang harus diubah. Tipikal sepeda jalan raya tentu untuk kecepatan. Seatstay atau rangka yang menjepit ban belakang yang pendek membuat sulit untuk kestabilan dan memasang pannier. Lalu jarak seatstay yang pendek juga menyulitkan jika harus memakai ban tapak lebih lebar. Padahal, touring dengan beban banyak dan ban tapak kecil lebih rentan memperoleh masalah seperti ban bocor. Untuk pengereman juga kurang menggigit.

BACA JUGA:  Menikmati Car Free Day dengan keluarga

Kelemahan lain sepeda balap adalah banyak yang tidak dilengkapi dengan lubang baut (eyelets) untuk memasang fender atau rak pannier. Padahal dua alat ini sangat penting dalam touring. Crank yang double dan cassete yang rapat dengan ukuran kecil tidak cocok untuk touring yang variasi medan bisa sangat bervariasi.

Jadi, untuk memperoleh kenyamanan touring ada beberapa bagian yang perlu dibenahi.

    • Crank,

Gantilah menjadi crank triple atau double tetapi beda kombinasinya jauh sekali. Bisa juga menggantinya dengan crank MTB yang memiliki kombinasi angka lebih kecil.

    • Fender/spakbor

Sepeda balap sekarang ini kebanyakan tidak menyediakan lubang baut untuk memasang fender atau spakbor. Maka gunakan pelindung lumpur yang dicantelkan di downtube(rangka bagian bawah). Setidaknya ini menghindarkan muka dari cipratan lumpur saat menerjang genangan air atau permukaan jalan yang becek sehabis hujan.

Sedangkan untuk fender belakang bisa menggunakan fender yang dicantolkan ke batang seatpost.

  • Rak pannier
    Rata-rata sepeda balap saat ini tidak dilengkapi dengan lubang baut untuk memasang rak pannier. Berbeda dengan sepeda balap lawas yang sudah menyiapkan lubang untuk memasang rak pannier dan juga fender. Nah, jika lubang baut tidak ada, maka untuk melengkapi sepeda balap dengan rak pannier ada dua penyelesaian.

Pertama memasang rak yang dikaitkan dengan seatpost. Alternatif lain menggunakan rak universal. Hanya saja di Indonesia jarang yang jual karena budaya touring belum marak.

Perubahan lain yang harus dilakukan demi kenyamanan touring adalah cassete. Sepeda balap umumnya antar girnya rapat. Untuk touring yang medan jalannya tak semuanya datar kombinasi itu agak merepotkan. Terlebih membawa muatan. Makanya perlu diganti crank model triple (48-38-26) dan cassete menggunakan kombinasi sepeda gunung (11-32) yang lebih mumpuni untuk melewati jalan menanjak.

Sekian yang bisa mimin kilas dalam artikel “Sepeda Rakitan untuk touring” kali ini, apabila suka jangan lupa berbagi dengan like dan share ya 🙂 salam gowes!!