Sepeda MTB (All Terrain Bike / Multi Terrain Bike)

September 1, 2015 - 7 minutes read

Sepeda MTB

Istilah MTB sebagai Mountain Bike atau sepeda gunung yang sering juga disebut sebagai Multi Terrain Bicycle atau juga sering disebut All Terrain Bike, paling banyak pengikutnya dan diperkenalkan di Indonesia baru di era sekitar tahun 1980an. Sepeda gunung sering juga diketahui bahwa memiliki “handlebar” rata

Handle Bar Rata Sepeda Gunung
Handle Bar Rata Sepeda MTB

dan menggunakan ban gemuk berukuran sekitar 26 inchi yang aman digunakan di medan off road baik untuk tanjakan ataupun turunan di pegunungan dengan kondisi tertentu.

Sedangkan penyebutan sepeda MTB sendiri sebagai Multi Terrain Bicycle dimaksudkan untuk lebih mengarah kepada penamaan ATB (All Terrain Bicycle) sebagai nama awal sepeda ini. Penamaan Multi Terrain dirasakan lebih sesuai dengan penggunan sepedanya. Dapat dipakai diberbagai situasi medan tanpa harus di gunung. bisa di bukit, bisa di hitan ataupun di tengah kota. Sejak dunia mengenal sepeda gunung ini, sepeda gunung ini memiliki ciri-ciri salah satunya adalah ringan, bentuk kerangka yang terbuat dari baju, alumunium dan yang terbaru menggunakan bahan komposit serat karbon (Carbon Fiber Reinforced Plastic) dan menggunkan shock breaker peredam kejut.

Ban sepeda MTB ini memiliki kemampuan untuk mencengkeram tanah dengan kuat. Sepeda MTB ini memiliki 18-27 gear pindah yang berguna untuk mengatur kecepatan dan kenyamanan dalam mengayuh pedalnya. Sepeda gunung dengan 27 gear berarti memiliki crankset depan dengan 3 piringan dan cassette sprocket dengan 9 piringan. Sehingga 3×9 = 27 tingkat kecepatan yang berbeda.

Berdasarkan fungsi

Secara umum sepeda gunung dibagi menjadi 5 jenis fungsi atau jenis umumnya, yaitu:

1. Cross Country (XC)

Sepeda ini juga dikenal dengan sebutan XC. Sepeda ini dirancang untuk jalur off-road dengan rintangan minim hingga menengah. Sepeda ini dibagi menjadi dua yakni, hardtail mountain bike yang suspensinya hanya berada di depan dan full-suspension mountain bike (fulsus) yang meiliki dua suspensi, depan dan belakang.

BACA JUGA:  Lomba balap sepeda paling dingin, dekat dengan kutub utara lagi. Berani coba?

Menggunakan hardtail mountain bike, Anda bisa memiliki teknik mengayuh yang baik tanpa perasaan seperti memental. Sepeda ini jauh lebih awet dibanding full-suspension mountain bike dan tak terlalu menuntut perawatan.

Pada full-suspension mountain bike, suspensi depan dan belakang terintegrasi pada rangka sepeda. Sepeda ini jauh lebih nyaman dikendarai dibanding hardtail mountain bike. Di beberapa sepeda, suspensi belakangnya (dan juga depan) bisa dimatikan atau tidak berfungsi. Bobot sepeda XC berkisar 9-14 kg dan dirancang untuk memakai suspensi depan dengan travel 6-10 cm.

2. All Mountain (AM)

Biasa dipakai untuk jalur perpaduan antara Cross Country (XC) dan Down Hill ringan (light DH). Didesain untuk melintasi alam yang berat seperti naik dan turun bukit, masuk hutan, melintasi medan berbatu, dan menjelajah medan offroad jarak jauh. Memiliki 2 suspensi depan dan belakang (double suspension). Panjang suspensi belakang (rear suspension) sekitar 6 inchi dan panjang suspensi depan (fork) mulai dari 140mm s/d 160mm. Pemakai dapat melakukan pendakian gunung dengan baik (tidak berat), sekaligus juga dapat menuruni gunung dengan cepat (tidak berguncang-guncang), karena panjang suspensi yang optimal. Keunggulan sepeda jenis ini ada pada ketahanan dan kenyamanannya untuk dikendarai. Berat antara 14-16 kg dengan travel suspensi depan hingga 15 cm.

3. Free Ride (FR)

Dirancang untuk mampu bertahan melakukan lompatan tinggi (drop off) dan kondisi ekstrim sejenisnya. Rangkanya kuat namun tidak secepat dan selincah sepeda jenis All Mountain, karena bobotnya yang lebih berat, maka kurang cocok untuk digunakan dalam perjalanan jarak jauh dan sangat tidak cocok untuk tanjakan. Travel suspensi depan sangat panjang, yaitu 16-20 cm. Bobot mencapai 16-23 kg.

BACA JUGA:  Barang wajib yang harus dibawa sebelum gowes

4. Down Hill (DH)

Untuk medan yang sangat ekstrem, sepeda gunung jenis ini mempunyai suspensi ganda (double suspension) untuk meredam benturan yang kerap terjadi ketika menuruni lereng dan dapat menikung dengan stabil pada kecepatan tinggi. Dirancang agar dapat melaju cepat, aman dan nyaman dalam menuruni bukit dan gunung. Sepeda jenis ini tidak mengutamakan kenyaman dalam mengayuh, karena sepeda jenis ini hanya dipakai hanya untuk menuruni lereng bukit atau gunung. Sepeda ini juga dipakai untuk perlombaan, sehingga yang menjadi titik utama dalam perancangannya adalah bagaimana agar kuat namun dapat melaju dengan cepat. Untuk menuju ke lokasi, para down hiller tidak mengayuh sepeda mereka, namun sepeda mereka diangkut dengan mobil. Sangat tidak efisien jika sepeda ini digunakan di dalam kota maupun di jalur cross country. Suspensi depan bertravel 16-20 cm dan bobot 18-23 kg.

5. Dirt Jump (DJ)

Sepeda jenis ini awalnya dirancang untuk anak muda perkotaan, selain sebagai alat transportasi, untuk kebut-kebutan di jalan raya kota, juga digunakan untuk melakukan atraksi lompatan tinggi dan atraksi-atraksi ekstrim lainnya. Fungsi dari sepeda jenis ini sangat mirip dengan BMX, namun dengan bentuk yang diperbesar. Nama lain dari sepeda jenis ini adalah trial atau urban MTB. Berat 13-18 kg.

Berdasarkan jenis frame

Sedangkan berdasarkan jenis frame, sepeda gunung dibagi berdasarkan dua jenis frame, yaitu:

1. Hard Tail

Jenis ini memiliki bagian depan yang bersuspensi, sedangkan frame dengan bagian chain stay kaku tanpa ada suspensi. Tipe hard tail biasanya dipakai di medan yang bervariasi. Tipe hard tail sendiri bisa dicirikan dari adanya satu shockbreaker di garpu depan. Kalau tipe ini lebih cepat mendapatkan momentum ketika digenjot sehingga untuk mendapat kecepatan maksimum jadi lebih gampang. Tipe ini cocok buat yang senang cross country atau main di daerah pedesaan. Untuk yang suka modifikasi, kita bisa menambah shockbreaker, rem cakram, menambah gir, dan lain-lain.

BACA JUGA:  Naik mobil atau sepeda? Mana yang lebih buat bahagia

2. Full Suspension

Sepeda jenis ini memiliki suspensi untuk bagian garpu depan dan bagian chain stay. Mekanisme kerja peredam kejut di bagian chain stay menggunakan penggerak (pivot) yang menghubungkan lower dan upper chain stay, sehingga membuat ban belakang dapat naik-turun mengikuti kontur medan yang dilalui. Untuk full suspension biasanya dipakai buat penggemar turunan atau downhill. Hal ini penting karena getaran sepeda saat turun bisa diredam oleh shockbreaker di garpu depan dan belakang sepeda. Sepeda jenis ini biasanya fork (garpu) depannya lebih tinggi ketimbang belakang. Soalnya ketika di turunan, sudut kemiringan sepeda enggak akan terlalu ekstrem. Alhasil sepeda jadi lebih mudah dikontrol.