Sepeda, kendaraan bebas hukum

April 18, 2016 - 4 minutes read

Sepeda, kendaraan bebas hukum

Apakah benar demikian? mari simak beberapa share pengalaman sahabat2 goweser kita.
Sering sekali kita menemui teman-teman pesedap bila lampu merah tetap saja mencari celah untuk menyebrang atau enggan sekali untuk berhenti. Namun apakah terlintas di benak kita, dimana posisi kita pesepeda di mata hukum>
Apakah hak dan kewajiban kita para pesepeda, apakah sama dengan pesepeda motor? ataukah sama hak dan kewajiban kita dengan para pejalan kaki? atau bahkan kita tidak memiliki aturan? Setelah beberapa investigasi mimin di internet, ternyata memang hal ini diperbolehkan di Amerika, di New York lebih tepatnya. disana, pesepeda memiliki hak spesial untuk boleh melakukan beberapa “pelanggaran hukum”. Wow sekali tentunya, pasti beda halnya dengan di kyoto seperti yang mimin bahas di artikel2 sebelumnya. Memang pada posisinya, pesepeda masih harus mengalah untuk pejalan kaki, karena hak pelajan kaki di jalan-jalan New York adalah nomer satu.

Lalu, bagaimana dengan di Indonesia sendiri? bagaimana kita pesepeda di mata pemerintah? Dengan keingintahuan yang besar teman goweser kita memutuskan untuk bertanya kepada pak polisi didaerah kota. Si bapak berjanggut tipis yang sedang duduk memantau keadaan. Sekonyong2 sahabat kita dapat dan bertanya: “permisi, pak!” (kaget banget si pakpolisi karena seperti ditodong pistol). Mau nanya, aturan lalu lintas buat pesepeda sebenarnya gimana sih pak? Si pak polisi, “Oh ya biasa aja kok dek, asak berhati-hati saja dan gak bikin masalah.” …? tentu sahabat kita bingung. Karena bapak tersebut tidak menjawab pertanyaannya. Kemudian dia memutuskan untuk pamit dan bertanya ke polisi di daerah lain. Sesampainya di kampung melayu, sahabat kita satu ini bertanya lagi kepada pak polisi yang sedang berjaga. Kali ini si bapak berkumis tebal dan tidak berjenggot. Dengan perihal yang sama sahabat kita bertanya. Kemudian inilah jawaban sang bapak tersebut, “kalau lampu merah ya berhenti dek, masa mau diterobos, patuhi juga rambu-rambu yang lain tentunya.” Yah, berarti ga beda jauh dong sama motor “sahutnya kemudian ditambahinya pertanyaan berikutnya. “Jadi pesepeda harus pakai helm SNI dong pak?”. “Ya enggak lah, kamu ini bagaimana sih..” jawab sang bapak polisi tersebut. Untungnya sang bapak ini tidak terlalu menyeramkan untuk diajak ngobrol jadi muncul pertanyaan berikutnya, Lalu untuk soal melawan arah, itu bagaimana pak? Itu juga motor pada banyak yang lawan arus”. Kali ini dahi si bapak agak sedikit mengernyit -berpikir mungkin, “Itu kan salah, kalo terjadi kenapa-kenapa, mereka kena pelanggaran hukum, untuk sepeda ya ndak apa-apa. Wong sepeda sekenceng apa sih jalannya.” akhirnya dapat ditarik kesimpulan dari tanya jawab singkat tersebut bahwa di Indonesia sendiri belum ada peraturan/hukum yang benar-benar tertulis untuk pesepeda di jalanan Indonesia. Horee! jadi kita boleh dong melanggar hukum dan berbuat seenak hati?

BACA JUGA:  Perlengkapan sepeda gunung sebelum gowes

Tentu saja tidak, pertama pendapat dari mimin sendiri mengapa kita harus mematuhi peraturan dan rambu-rambu lalu lintas adalah untuk keselamatan kita sendiri dan keselamatan pengguna jalan lainnya. Berhenti ketika lampu merah, tidak melawan arus, sebisa mungkin tidak menggunakan trotoar adalah contoh pesepeda yang teladan walau tak ada aturan tertulis tentang itu. Di Indonesia ini lebih ke arah norma dan etikat baik. Karena melanggar rambu-rambu tentunya bukan hanya membahayakan diri kita sendiri, tetapi juga membahayakan pengguna jalan lainnya. so singkat kata, patuhilah rambu-rambu lalu lintas kawan goweser. kalian bakal tetap keren kok walau mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Salam goweser buat pecinta gowes setenah air!