Persiapan untuk petualangan sejati

November 17, 2015 - 3 minutes read

Persiapan untuk petualangan sejati

Memacu adrenalin menggunakan sepeda dengan kecepatan tinggi, menuruni jalanan terjal dan berliku di tengah hutan belantara. Selain menantang, sejuknya udara dan pemandangan alam menjadi hal yang patut diperjuangkan, meskipun, tak jarang mesti jatuh tersungkur penuh luka lantaran ban meletus atau menabrak pepohonan.

Agar terhindar dari kecelakaan fatal saat “blusukan”, ada baiknya mempersiapkan fisik dan memeriksa spek sepeda sesuai kebutuhan. Apa yang dialami Anam Subekti, penggemar downhill asal Sorowajan, Yogya ini setidaknya bisa menjadi pelajaran berharga.

Belum lama ini saat tengah asik menyalurkan hobi downhill nya di wilayah Kaliurang, di tengah perjalanan ban sepedanya pecah. Beruntung ia tak tersungkur. Menurut Aky panggilan akrab pria yang juga gemar memainkan mesin DJ ini, kejadian ban pecah tersebut lantaran ia kurang pas memperhitungkan medan yang akan dilaluinya dengan spek sepeda yang ia pakai.

“Karena pecah ban, terpaksa kami tak bisa melanjutkan perjalanan. Sebenarnya itu bisa diantisipasi bila pemilihan spek sepeda sesuai dengan peruntukkan, misalnya pemilihan frame, cakram, stang dan lain-lain,” ujar Aky.
Untuk pemilihan frame, Aky pribadi lebih menyukai frame jenis hardtail, 4cross atau dirtjump. Aky menyarankan, dalam memilih frame lebih baik menyesuaikan kebutuhan track dan tentunya budget.

“Bisa memilih frame alloy atau crhomoly. Ada juga yang carbon. Sebaiknya sesuaikan ukuran frame dengan tubuh kita masing-masing. Berat dan tinggi kita akan sangat mempengaruhi kekuatan dan kenyamanan saat bersepeda,” terang Aky.
Sama pentingnya dengan pemilihan frame, pemilihan cakram juga harus sesuai dengan kebutuhan dan berat badan. Seperti Aky yang memiliki berat 65 Kg, untuk cakram belakang ia memakai rotor 6″.

BACA JUGA:  Alasan mengapa gowes lebih baik daripada diet

“Usahakan pakai yang rem hydro, biar lebih pakem, apalagi yang double piston. Sedangkan untuk pemilik berat badan lebih dari 65 Kg, bisa menggunakan rotor ukuran 7″ atau 8″ supaya lebih mantap,” terang Aky.
Pemilihan part lain yang harus disesuaikan dengan postur tubuh adalah stang. Menurut Aky, jarak bar, bahu dan lebar tangan saat memegang stang harus senyaman mungkin, sebab penopang utama saat sepeda dikayuh tertumpu pada bagian tangan.

“Kalau pakai bar yang kurang pas bisa-bisa akselerasi jadi kacau atau mudah goyang,” kata Aky.
Aky menambahkan, untuk gigi, gear atau ratio pada saat melakukan downhill misalnya, bisa memakai multi rear gear atau speed gear belakang. Aky sendiri kebetulan lebih suka memakai single gear dengan ratio yang lebih berat agar bisa menyesuaikan saat melewati jalan tanjakan dan bisa nambah kecepatan juga saat jalur menurun.

“Untuk pemilihan roda, aku pakai XC atau cross country, karena bisa di pakai di jalan yang terjal dan nggak terlalu berat saat di jalan beraspal. Bagi penggemar downhill, bisa memilih grid khusus, misalnya yang kotak-kotak nya besar dan mampu mencengkeram di tanah dengan, untuk menyesuaikan. Jangan lupa gunakan pengaman atau alat pelindung tubuh untuk keselamatan, terutama sepatu, helm, glove dan protector lainnya,” imbuh Aky.