Fakta fakta seputar gowes

November 9, 2015 - 15 minutes read

Fakta fakta seputar gowes

Kali ini mimin akan share apa sih fakta-fakta seputar gowes? karena segala sesuatu ada kali pertamanya. Demikian pula dengan aktivitas bersepeda atau lebih dikenal dengan gowes. Bagi mereka yang sudah menjadikan gowes sebagai aktivitas rutin mungkin hal-hal di bawah ini sudah luput dari perhatiannya, tapi tidak demikian bagi mereka newbie, yang baru beraktivitas dan mulai menikmati aktivitas ini, ada hal-hal menarik dari cerita bersepeda. Berikut adalah fakta-fakta menarik itu – versi mimin.

1. Gowes tidak identik dengan baju sepeda ketat (lycra)
Ini yang menahan mimin melakukan aktivitas gowes lebih awal. Ada sebuah ketidakberanian untuk memakai baju dari lycra yang sangat ketat pas di badan sehingga mau tidak mau memperlihatkan lekukan tubuh pemakainya. Masalahnya adalah tidak ada yang perlu dibanggakan dari bagian tubuh mimin: perut sudah maju, pantat malah mundur. Bayangan lekuk perut six pack itu hanya ada di angan. Menyakitkan. Selidik punya selidik, pakaian ketat di badan itu umumnya dipakai oleh para gowesman dan goweswati penggowes jalanan, maksudnya pesepeda jalan raya. Bagi mereka biking for fun, yang jarambah ke kampung-kampung, pematang sawah dan lain-lain, tidak ada aturan baku untuk itu. Celana pendek di bawah lutut yang dipakai sehari-hari pun jadi. Juga kaos peninggalan kampanye pun oke pula.

2. Merasakan jadi billboard berjalan
Perihal baju, yang jamak dipakai oleh para penggowes adalah baju yang agak ketat. Memang umumnya bajunya sepas badan, makanya biar bentuk tubuh penulis tidak terlihat seperti perempuan hamil enam bulan, akhirnya diakalin dengan memilih yang ukurannya XXL. Yang menarik adalah umumnya baju itu penuh tulisan-tulisan yang ngejeblag gedenya. Awalnya sih cukup mengganngu dan merasa seperti billboard berjalan. Tapi lama kelamaan, keren juga ya orang lain bisa baca dan berujung tahu ada makhluk yang bernama seperti itu – yang umumnya adalah nama perusahaan tempat pegowes bekerja. Di sini mungkin tepat sebuah judul filem jadul: Bold is beautiful. Halah

3. Protect your future children
Perihal celana banyak lucunya. Selain celana ketat lycra yang memperlihatkan tonjolan di daerah yang bisa menjadi kebanggaan atau aib bagi pemakainya (bagi pria), ternyata pegowes pun dihadapkan kepada tawaran menarik dengan tujuan untuk “protect your future children”. Maksud loh? Begini. Hari pertama gowes itu sangat menyenangkan dan melelahkan. Juga menyakitkan. Sakitnya itu bukan di sini (model Cita Citata), tetapi di youknowwhere. Di situ tu, di pangkal paha yang menjepit kemaluan, istilah Sundanya palangkakan. Sakit di sini umumnya juga dimulai dari daerah sekitar pantat atau ekor yang kemudian menjalar ke sana. Kalau sudah terasa sakit, maka bisa jadi akan terasa sakit ketika penggowes kencing. Hal ini umum terjadi pada pegowes pemula yang belum menemukan bentuk kenyamanan duduk di atas sepeda. Dengan dasar menghindari rasa sakit, dan tentunya melindungi sang “adik” sehingga bisa menyelamatkan anak-turuanmu kelak (halah), ditemukanlah sebuah rekayasa celana. Muncullah celana dengan pad atau busa tebal. Celana itu banci. Disebut celana dalam tidak, disebut celana luar juga bukan (kecuali mereka yang memiliki keberanian tinggi memakainya). Celana itu dipakai setelah celana dalam dan sebelum celana luar. Nyamankah memakai celana berpadding seperti itu? Suwer, nggak. Bagaimana tidak, jika memakai celana seperti itu penulis bak merasakan nasib seorang anak balita yang memakai popok (pampers). Atau mungkin seperti istri yang sedang datang bulan memakai pembalut. Entahlah, karena penulis belum pernah pakai pampers maupun pembalut – ih, emang gue cowok apaan. Yang pasti terasa adalah adanya sesuatu yang mengganjal. So, kalau tidak nyaman, kenapa dipakai? Ya itu tadi demi protect your future children. Setidaknya dengan memakai celana seperti itu, aktivitas akan lebih mengasyikan karena intensitas sakitnya jauh terkurangi karena si pantat duduk dengan cukup nyaman.

BACA JUGA:  Mengapa sepeda itu perlu untuk si kecil?

4. Pegowes adalah orang paling ramah sedunia
“Ah, itu pendapat penulis saja?”. Halah. Memang. Itu pendapat penulis. Tapi ada dasarnya. Ketika pertama kali gowes sendirian, penulis sering berpapasan dengan goweswan individual lainnya. Apa yang mereka lakukan ketika berpapasan itu? Kadang mereka melemparkan senyum. Kadang mereka menyapa sangat singkat “Pagi Pak”. Kadang mereka melambaikan tangan. Atau terkadang mereka melakukan semuanya berbarengan. Bayangkan. Itu berpapasan dengan orang lain loh. Di era modern seperti sekarang ini, rasanya menyapa dengan orang yang berpapasan adalah sebuah aktivitas langka – kecuali berpapasan dengan orang yang dikenal. Benar gak, benar gak? Tapi tidak dipungkiri juga ada pegowes yang begitu meresapi dunianya, sehingga mereka asyik dengan dirinya dan tidak menyapa. “Ah, mungkin dia sedang berpikir, sedang terlalu banyak masalah”. Atau mungkin ada juga penggowes yang tidak menyapa, tidak senyum dan tidak melambaikan tangan, karena semuanya sudah diganti dengan sebuah alat. Bel sepeda. Kriiing.

5. Gowes itu mendewasakan pribadi
Really? Beneran? Kok bisa? Coba deh ikutan gowes berkelompok. Di setiap pertemuan dengan kelompok pegowes lain, terutama secara individual, kita akan disapa “Mari Om”, “sudah selesai Om”, “boleh pinjam pompa Om”. Pokoknya siapapun memanggil kita Om, termasuk kepada mereka yang jauh usianya di bawah kita. Padahal yang disebut Om itu umumnya adalah orang dewasa bukan? Di pikiran penulis pernah muncul tanya “Emang gue tua amat gitu, dipanggil Om segala”. Atau mungkin pegowes pemula lain bahkan akan berpikir “Emang tampang gue kayak Om-Om senang?”. Tapi itulah dunia gowes, mengakrabkan diri dan membuat posisi setara dengan panggilan seperti itu. Posisi dewasa. Mengenai pikiran-pikiran di balik itu, kembali semuanya tergantung sensititivas dan masalah masing-masing pribadi. Hmm..

6. Pegowes itu jaduler
Masih ingat di benak jika pada jaman dulu diajari bapak “kalo belok kiri, tangan kiri direntangkan. Kalau belok kanan, tangan kanan yang direntangkan”. Itu masih berlaku pada dunia gowes, saudara: memakai tangan untuk memberi sinyal berbelok. Di kala sepeda motor sudah memakai lampu sen, sepeda ternyata masih asyik bercengkrama dengan jaman dulu: menggunakan anggota tubuh. Yah, betul. Belum ada ceritanya sepeda memakai lampu sen rasanya. Namun begitu, meskipun menggunakan anggota tubuh, rasanya juga belum ada pegowes yang belok memberi sinyal dengan kaki, seperti yang sekali dua diperlihatkan pengendara motor.

BACA JUGA:  Diet untuk pesepeda Professional

7. Gowes bukanlah tentang sepeda, tetapi tentang kebersamaan dan fun
Deuh, keren ya. Tapi beneran. Mau sepeda puluhan jutaan, ataupun sepeda jutaan atau kurang dari itu ternyata tidak terlalu berpengaruh, karena yang diutamakan adalah kebersamaan. Memang mau tidak mau sepeda yang mahal akan terlihat dari tampilan dibandingkan dengan sepeda yang biasa-biasa saja. Tapi pada saat aktivitas berjalan, so what gitu loh. Kalaupun beneran ngobrol tentang kerennya sebuah sepeda kepunyaan rekan, ya memang mengobrol seperti itu. But, that’s it. Sekedar obrolan saat break atau sebelum dan sesudah aktivitas saja. Tidak ada efeknya. Apalagi jika pada saat aktivitas berjalan terjadi sebuah kehebohan yang membuat fun, semisal saat muncul aib saat turunan atau kehilangan tenaga saat tanjakan, atau jatuh di tengah pematang.

8. Adu nyali ke dunia lain
Hidup di Jabodetabek. Hidup penuh penderitaan dan tekanan. Mau tidak mau konsentrasi tersita untuk menyiasati hidup dan … kemacetan. Gowes ternyata menjadi ajang adu nyali. Ya, nyali untuk keluar dari lingkaran tekanan seperti itu, dan beranjak ke dunia lain. Ya, tidak jauh-jauh. Dunia sekitar kita sendiri. Lewat kerimbunan pohon bambu dan mejeng di lokasi Bambu Narsis. Melintas pematang kebun daun bawang. Lewat kampung-kampung depan penduduk yang disapa dan menyapa. Terkadang juga begitu dekat dengan rumah penduduk, dengan lewat ke depan kadang kambingnya, berpose persis di bawah kandang merpati yang terbentuk di antara dua pohon yang mengangkang, selintas menengok isi dalaman rumah sederhana atau bahkan melihat anak-anak super gendut telanjang sedang bermain lesehan di kamar mandi amat sangat sederhana. Di kala lain berkutat di rimbunnya semak, atau turun tajam langsung berbelok di sergap hamparan hijau sawah, tipe mini dari Jatiluwih. Ah, what a wonderful world ya duniaku.

9. Merasakan Lost in paradise
Pernah merasakan tersesat? Tersesat itu tidak enak gila. Namun, nikmatilah tersesat sewaktu gowes, karena tersesatnya masih di “kota”. Coba kalau tersesat di gunung, berabe kita. Karena berada di dunia lain, maksudnya lingkungan lain yang baru dikenal, sangat disarankan bergowes dalam bentuk kelompok dengan salah satu anggotanya sudah hapal dengan rute yang dipilih. Memang sih pegowes akan melintasi kehijauan bak paradise, tapi jika tersesat kan tidak lucu. Beneran deh lost in paradise. Dan yang lebih tidak lucu adalah semisal kita tersesat di rimbunnya semak di track hutan kecilnya UI Depok, berputar-putar di tempat itu saja, dan ternyata tempat itu hanyalah selemparan batu dari jalan raya. Malunya itu loh gak tertahankan. Kembali lagi, kunci agar tidak tersesat adalah Don’t be lonely – jangan sendiri. Sebabnya bukan saja karena alasan tersesat, tetapi mengindari resiko tidak terduga, semisal dirampok atau colapse / pingsan di tengah jalan. Gowes itu jangan sendirian, kecuali ke daerah yang benar-benar dikenal atau cukup ramai.

10. Ingat pergi, ingat pula pulang
Bukan! Bukan bermaksud menyindir Bang Toyib yang jarang pulang, atau malah pulang ke tempatnya yang baru. Maksud kalimat di atas adalah agar pegowes ingat jalan pergi dan tahu jalan pulang. Dalan hal ini, pegowes harus memiliki rencana mau ke mana tempat yang dituju, dan bagaimana rencana pulang ke tempat asal. Jangan sampai karena impromptu (mendadak, jalan sekenanya), menyusuri jalan kampung, eh ujug-ujug sampai di Parung. Bagaimana kalau sesampainya di Parung kita fatigue, kelelahan. Mau pulang gowes mana kuat – ternyata jauh begitu, mau nyewa pick up tidak bawa duit atau tidak ada yang menyewakan, mau call a friend batere hape mati.

BACA JUGA:  Wanita Cantik Penjelajah Kutub Selatan

11. Ingat!! Jangan pikirkan membakar kalori saat gowes
So contradictive. Beneran loh, jangan terlalu memikirkan membakar kalori jika kita mengikuti aktivitas gowes. Memang benar sih gowes itu adalah aktivitas fisik yang menguras tenaga. Itu tidak dipungkiri dan sangat terbukti. Iya, terbukti penulis pun merasakan pegal tangan dan kaki seusai bergowes. Bukankah itu bukti bahwa tenaga kita dikuras, dus kalori kita dibakar? Namun, masalahnya adalah terletak pada perut Anda. Di luar komunitas gowes yang serius, mungkin sebagian besar penggowes melakukan ini selepas aktivitas fisiknya: wisata kuliner. Bahkan terkadang, lokasi gowes itu pun dipilih yang ya berdekatan dengan warung, restoran atau tempat makan yang enak-enak.Dan bahkan pula, pegowes itulah yang justru menemukan dan kemudian mempopulerkan sebuah tempat makan biasa / pinggir menjadi naik kasta saking uenaknya. Nah, jika itu terjadi, dan dengan melakukan perhitungan matematika standar, akhirnya bisa didapatkan bahwa kalori yang dibakar saat gowes ternyata masih kalah besar dibandingkan dengan kalori yang masuk saat wisata kuliner.

12. Gowesan boleh selfie, tidak boleh selfish
OK lah. Dalam dunia digital begini, tidak afdol jika tidak bawa handphone berkamera. OK lah, silakan berselfie ria dengan beragam latar belakangnya dan beragam latar depannya. OK juga lah jika ada yang kepikiran untuk membawa tongsis. Tidak apa-apa juga. Bahkan posting ke medsos di tengah perjalanan pun dengan harapan mendapat jempol dan komen “Kece deh” pun tidak menjadi masalah. Everything will be OK jika selfie itu dilakukan dengan kondisi aman, tidak mencelakakan diri sendiri dan sekeliling. Don’t be selfish. Jangan egois. Jangan hanya karena berselfie demi kepuasan diri sendiri akhirnya malah membuat orang lain celaka itu tidak gowes banget. Bagi mereka goweswan yang sudah berkeluarga pun tidak boleh selfish bin egois. Jika sepulang gowes lalu berwisata kuliner, lha ya mbok beliin apa gitu sebagai oleh-oleh buat anak istri. Udah mah pergi pagi pulang siang, eh balik-balik tangannya melenggang. Kosong. Kok rasanya egois bingit ya. Ya kalo tidak punya duit pun, beli lah seadanya. Berapa sih harga beberapa potong ongol-ongol atau awug di jalanan Pondok Cabe yang kelewat? Berapa pula sih harga jagung yang dibakar di tengah track gowes? Repot bawanya? Lha apa salahnya plastiknya digantung, satu di stang kiri, satu di stang kanan. Biarkanlah jika sedikit terlihat seperti tanduk rusa terbalik. Yang penting mah menunjukan kasih sayang buat keluarga. Betul apa betul?